
KUTIPAN – Tokoh masyarakat Kabupaten Lingga, Muhammad Ishak, menyoroti kinerja Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di tingkat kecamatan, khususnya di Kecamatan Lingga yang merupakan pusat ibu kota kabupaten.
Ia menilai, aparatur sipil negara (ASN) yang bertugas di wilayah tersebut harus mampu menjalankan fungsi secara maksimal, tidak hanya sebatas memenuhi tugas administratif, tetapi juga memiliki inisiatif dan kreativitas dalam melayani masyarakat.
Menurut Ishak, posisi Kecamatan Lingga sebagai wajah daerah menuntut kualitas aparatur yang lebih unggul.
“Karena itu menurut pendapat saya, pengangkatan ASN untuk ditugaskan sebagai camat, termasuk lurah dan perangkatnya di Kecamatan Lingga selain harus memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan juga harus diseleksi betul-betul,” ujar Muhammad Ishak kepada Kutipan.co, Rabu (15/4/2026).
Ia menjelaskan, ibu kota kabupaten memiliki peran strategis sebagai pusat pemerintahan, sosial budaya, ekonomi, hingga infrastruktur, sehingga seluruh elemen harus bergerak secara dinamis.
“Semuanya harus hidup, menggeliat, bergerak dan berkembang secara dinamis, walau secara perlahan,” kata Ishak.
Mantan Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga itu mengaku menyampaikan hal tersebut berdasarkan pengamatan dan perbandingan kondisi Kecamatan Lingga dari waktu ke waktu.
Ia menilai, meskipun pembangunan infrastruktur sudah mengalami peningkatan, namun kegiatan yang dimotori oleh camat, lurah, dan perangkatnya masih perlu ditingkatkan.
“Barangkali untuk infrastruktur sudah ada peningkatan tetapi untuk kegiatan-kegiatan yang dimotori camat, lurah dan perangkat masih perlu sekali ditingkatkan,” jelasnya.
Ishak turut membandingkan kondisi saat ini dengan masa sebelum Kabupaten Lingga terbentuk. Ia menyebut, pada masa itu berbagai kegiatan masyarakat dapat dilaksanakan tanpa bergantung pada anggaran pemerintah.
Beberapa kegiatan tersebut antara lain gotong royong pembukaan jalan, pembangunan fasilitas umum, hingga kegiatan sosial budaya.
“Kenapa sebelum Kabupaten Lingga terbentuk, berbagai kegiatan dapat dilakukan tanpa sepeserpun didanai APBD,” ungkap Ishak.
Selain itu, Ishak juga menyinggung kegiatan budaya seperti pawai, peringatan hari besar keagamaan, hingga tradisi tujuh likur yang telah menjadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI).
Ia bahkan membandingkan pelaksanaan kegiatan tersebut antara Kecamatan Lingga dan Kecamatan Singkep.
“Hendak beribu akal, tak mau beribu alasan,” tegasnya.
Menurutnya, meningkatnya kunjungan wisatawan ke Daik harus menjadi peluang untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.
Ia mengingatkan agar kawasan ibu kota tetap dijaga dan dirawat, sehingga nuansa “Bunda Tanah Melayu” tetap terasa.
Ishak menegaskan, dukungan dari camat dan perangkatnya sangat penting dalam mendukung sektor pariwisata, terutama dalam penerapan sapta pesona.
“Jangan sampai terjadi ‘indah kabar dari rupa’, yang dapat membuat wisatawan merasa ‘sualak’ atau jera untuk datang kembali,” tuturnya.
Laporan: Dito Editor: Fikri




