
Fikri | Editor Berita, Penyeduh Kopi dan Seorang Lelaki yang kalau ditanya “lagi mikirin apa?” jawabannya selalu “nggak ada” padahal isi kepala kayak pasar tumpah.
Mungkin beginilah bentuk asli fenomena “lelaki tidak bercerita”.
Bukan laki-laki yang mendadak upload story galau dengan lagu Indie masa kini lalu berharap ada yang bertanya, “kamu kenapa?”. Bukan juga lelaki yang sengaja duduk di kafe sambil memandangi hujan supaya terlihat estetik seperti tokoh utama dalam film-film.
Bukan.
Lelaki tidak bercerita itu biasanya tetap masuk kerja. Tetap ketawa. Tetap bilang “aman kok”. Padahal isi kepalanya sudah seperti kabel WiFi digigit tikus, semrawut, korslet, dan tinggal tunggu meledak.
Mereka diam bukan karena kuat.
Kadang cuma karena bingung mau cerita ke siapa.
Dan kalaupun cerita, ujung-ujungnya paling cuma dapat nasihat, “Yang sabar ya bang.”
Kalimat yang kedengarannya bijak, padahal kalau dipikir-pikir mirip ucapan kasir Indomaret, standar, otomatis, dan semua orang dapat versi yang sama.
Cerita ini bermula dari saya yang sedang menjalani profesi paling absurd di dunia digital, editor media online.
Profesi belakangan ini diisi oleh beragam model manusia, semenjak media online menjamur dan koran perlahan berhenti terbit, isinya beragam ada yang tiba-tiba paling kenceng menjabarkan kronologi pembunuhan sambil nyeduh kopi dan makan mi instan padahal tidak ada dilokasi kejadian. Tapi kali ini saya tidak sedang ingin bercerita tentang itu.
Siang itu Kamis (7/5/2026), ditengah asik-asiknya saya mendengar lagu-lagu The Beatles, wartawan mengirim berita lengkap dengan video konferensi pers polisi.
Saya baca cepat.
Polisi.
Konferensi pers.
Ada AKBP Robby Topan Manusiwa.
Ada parang panjang.
Otak saya langsung aktif seperti emak-emak lihat diskon minyak goreng.
“Wah, ini pasti pembunuhan.”
Tapi lalu saya melihat sesuatu yang janggal.
Di konferensi pers itu pada sesi foto ada polisi sedang mengangkat potongan batang pohon jati emas sebesar jari kelingking lengkap dengan daunnya yang sudah kering.
Saya bengong.
Kalau ini kasus pembunuhan, korbannya Tarzan atau bagaimana?, kok ada pohon, tanya saya dalam hati.
Rasa penasaran membuat saya membuka video konferensi pers itu.
Suara AKBP Robby Topan kurang jelas dalam rekaman, karena direkam pakai handphone android tanpa alat tambahan dan suara disekitar cukup berisik, sehingga suara AKBP Robby terdengar samar-samar. Tapi saya masih ingat logat beliau. Dulu beliau pernah jadi Kapolres Lingga dan saya pernah wawancara langsung.
Ada tipe polisi yang kalau bicara terdengar tegas.
Ada juga yang auranya seperti guru BP yang bisa bikin murid jujur bahkan sebelum ditanya.
Beliau (AKBP Robby) menurut saya tipe kedua.
Karena suaranya kurang terdengar, saya lanjut mendengarkan penjelasan Kabid Humas Polda Kepri, Kombes Pol Nona.
Dan di titik itulah suasana hati saya berubah.
Ternyata kasus ini tentang seorang lelaki yang menebang ratusan pohon jati emas di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman Batam.
Tiga ratus pohon.
TIGA RATUS.
Jumlah yang kalau dijadikan tusuk sate mungkin bisa bikin hajatan tujuh RT.
Pelaku berinisial T.N.
Ditangkap di kawasan Hutan Duriangkang.
Lalu Kombes Nona menjelaskan alasan pelaku melakukan itu, stres berat.
Istri dan anaknya meninggalkannya karena persoalan ekonomi.
Saya langsung diam.
Seketika yang saya kira berita kriminal pembunuhan itu berubah jadi cerita yang rasanya lebih menyedihkan daripada ending film Korea tentang ayah miskin.
Entah kenapa saya membayangkan lelaki itu berjalan sendirian di malam hari membawa parang, dengan isi kepala yang mungkin sudah penuh suara-suara kegagalan.
“Gagal jadi suami.”
“Gagal jadi ayah.”
“Gagal cari uang.”
“Gagal jadi lelaki.”
Kadang hidup memang kejam pada laki-laki biasa.
Apalagi kalau bukan anak konglomerat.
Bukan pewaris kebun sawit.
Bukan anak owner galangan kapal.
Bukan pemilik puluhan unit ruko dan satu unit mobil Pajero yang cuma dipakai buat beli galon.
Lelaki biasa sering tumbuh dengan keyakinan bahwa harga dirinya ditentukan isi dompet.
Begitu ekonomi hancur, rasa percaya dirinya ikut runtuh seperti tembok rumah subsidi kena banjir.
Dan di tengah semua kekalutan itu, lelaki ini hidup nomaden di hutan.
Di Batam.
Kota yang ritmenya kadang lebih melelahkan daripada hubungan tanpa status.
Batam itu kota yang bahkan tengah malam pun masih terdengar suara truk, kapal, motor knalpot brong, dan orang lembur mengejar target produksi. Saya lama tinggal di kota itu.
Orang-orang sibuk mencari uang sampai lupa caranya hidup pelan-pelan.
Dan di tengah kota sekeras itu, ada lelaki yang sehari-hari cuma ditemani parang.
Kombes Nona bilang, parang itu memang selalu dibawanya.
Kalimat itu menampar saya agak keras.
Karena berarti yang paling setia menemani lelaki itu bukan manusia.
Bukan istri.
Bukan anak.
Bukan sahabat tongkrongan.
Tapi parang.
Sebilah besi tajam yang mungkin lebih sering mendengarnya dibanding siapa pun.
Ironis sekali hidup ini.
Kadang lelaki terlalu takut terlihat lemah sampai akhirnya memilih ngobrol dengan rokok, kopi, atau benda mati.
Makanya jangan heran kalau tongkrongan lelaki sering sunyi namun dengan ketawa yang ga jelas obrolannya.
Kelihatannya ngobrol bola.
Bahas motor, musik atau merek rokok tanpa bandrol.
Atau ngatain wasit.
Padahal masing-masing sedang menyembunyikan perang di kepalanya.
Dan saya percaya, lelaki ini sebenarnya bukan marah pada pohon jati.
Mana mungkin orang punya dendam pribadi sama tanaman penghijauan.
“Dasar jati emas! Dari dulu gue benci sama lo!”
Kan nggak mungkin begitu.
Saya rasa ia sedang marah pada dirinya sendiri.
Pada hidup yang gagal ia menangkan.
Pada keadaan yang membuatnya merasa sendirian bahkan ketika masih punya keluarga.
Tiga ratus pohon itu mungkin cuma pelampiasan dari ribuan pikiran yang sudah terlalu lama ia tahan.
Dan jujur saja, untung yang ditebas pohon.
Bukan manusia.
Karena banyak tragedi besar sering dimulai dari kepala yang terlalu penuh tapi tak pernah diberi ruang untuk bicara.
Di akhir konferensi pers itu saya cukup salut pada polisi.
Kasus tetap diproses karena menebang pohon penghijauan dan menarik perhatian publik, katanya ada video viral terkait hal itu.
Tapi polisi juga tetap manusia.
Pelaku akan mendapat pendampingan sosial.
Setidaknya masih ada orang yang melihat lelaki ini sebagai manusia, bukan sekadar tersangka.
Karena kadang masyarakat terlalu gampang menyebut orang “gila”.
Padahal bisa jadi ia cuma terlalu lama pura-pura kuat.
Dan sejak tulisan itu saya terbitkan dalam dua angle, saya jadi berpikir, mungkin benar laki-laki tidak bercerita.
Mereka memendam semuanya.
Sampai suatu hari emosinya bocor dengan cara paling absurd.
Ada yang marah di jalan.
Ada yang mendadak diam total.
Ada yang kerja tanpa henti.
Ada yang minum sampai pagi.
Ada yang keliling kota membawa parang dan menebang 300 pohon jati.
Sebab tidak semua lelaki punya tempat pulang.
Sebagian cuma punya kepala yang bising dan tubuh yang dipaksa tetap kuat meski hatinya sudah lama remuk.
Disclaimer:
Tulisan ini merupakan curhatan penulis bisa fiksi ataupun kisah nyata. Kirim Tulisan
Punya opini, cerita, atau gagasan menarik yang ingin dibagikan? Kutipan membuka ruang bagi kamu untuk berkarya. Kirimkan tulisan terbaikmu dan jadilah bagian dari suara publik! Hubungi kami melalui WhatsApp di 0811-7776-644 / email: kutipan.co@gmail.com.




