
Oleh: Kiky (Tukang Ngopi, Penikmat Rebahan & Pendengar Cerita Orang Gigih)
Saya harus jujur sejak awal, pagi itu, ketika hujan turun deras, saya tidak sedang berjuang.
Saya tidak sedang bekerja. Tidak juga sedang berjualan.
Saya sedang melakukan aktivitas paling mulia yang sering diremehkan orang-orang ambisius, TIDUR.
Ya, tidur dengan penuh dedikasi. Dengan selimut yang ditarik sampai dagu, suara hujan jadi backsound alami yang jujur saja lebih syahdu daripada playlist lo-fi di YouTube.
Bagi saya, hujan pagi itu adalah undangan resmi dari semesta untuk menunda kehidupan sejenak.
Dan saya menerimanya tanpa negosiasi.
Cerita Itu Datang Belakangan
Saya tidak melihat langsung kejadian ini.
Saya tidak singgah ke lapaknya.
Tidak juga menyaksikan bagaimana orang-orang datang membeli bolu di tengah hujan.
Saya hanya mendengar cerita itu dari si penjual bolu sendiri.
Diceritakan dengan cara yang sederhana, tanpa dramatisasi, tanpa niat jadi inspirasi, tanpa niat minta dikasihani. Dia hanya pengen cerita dan kebetulan dia teman nongkrong saya saat menikmati kopi di warung kopi langganan saya.
Tapi justru di situlah masalahnya, cerita yang jujur seringkali lebih menampar daripada yang dibuat-buat.
Katanya, Pagi Itu Harusnya Sepi
Dia bilang, pagi itu sebenarnya tidak menjanjikan.
Logikanya sederhana dan saya setuju seratus persen (dari atas kasur), siapa juga yang mau keluar rumah saat hujan deras?.
Pagi hari dengan dihiasi hujan deras bagi kebanyakan orang yang rumahnya ga punya mobil pribadi atau mobil dinas tentu itu tantangan. Sebab aktivitas wajib berjalan, sementara baju hujan entah dimana disimpan. Pokoknya hujan pagi itu bikin gelagapan.
Orang-orang sibuk antar anak sekolah.
Karyawan takut telat masuk kantor.
Dan saya, sudah saya ceirtakan diatas ya, saya waktu hujan pagi itu lagi ngapain.
Dan yang paling masuk akal, tidak ada yang cukup nekat berhenti di pinggir jalan cuma buat beli kue bolu saat hujan. Ditengah ribetnya pakai baju hujan, bawa boncengan anak untuk antar sekolah.
Kalau saya jadi dia, mungkin saya sudah tutup lapak sebelum buka.
Tapi ya itu, saya bukan dia.
Saya cuma orang yang pagi itu memilih bantal dan selimut daripada realitas.
Tapi Ternyata, Logika Itu Sering Kepedean
Cerita mulai menarik ketika dia bilang, “Ternyata banyak yang singgah.”
Saya sempat mikir dia bercanda.
Tapi tidak. Saya yakin dan percaya, dia (si penjual bolu) sosok yang gigih.
Katanya, satu per satu motor berhenti.
Orang-orang turun pakai jas hujan. Ada juga yang pesan pakai teriak tapi masih diatas motor.
Helm masih basah.
Celana kena cipratan air jalanan.
Dan mereka tetap beli bolu.
Semua dilayani sama dia dengan senyuman.
Bukan satu dua orang. Banyak.
Di titik ini, saya mulai merasa ada yang salah.
Bukan dengan ceritanya, tapi dengan cara saya memandang hidup.
Bolu yang Tidak Ambisius, Tapi Dibutuhkan
Yang dia jual itu bukan makanan viral.
Tidak ada topping lebay.
Tidak ada nama menu yang susah dieja.
Tidak ada strategi marketing digital.
Cuma bolu.
Tapi justru karena itu, bolu itu jadi relevan.
Buat anak sekolah.
Buat bekal kerja.
Buat orang yang butuh sesuatu yang cepat, murah, dan cukup.
Sementara saya?
Masih di kasur, mungkiin bahkan belum sadar kalau dunia sudah berjalan tanpa menunggu saya bangun.
Rezeki yang Tidak Butuh Izin dari Cuaca
Dari cara dia becerita, saya menangkap satu hal.
dia sendiri tidak menyangka.
Dia juga sempat ragu.
Dia juga sempat berpikir hari itu bakal sepi.
Tapi dia tetap jualan.
Dan entah bagaimana, rezeki itu datang.
Bukan dengan cara dramatis.
Bukan dengan kejutan besar.
Tapi lewat hal sederhana.
orang-orang yang tetap berhenti, meski hujan tidak berhenti.
Di situ saya mulai sadar, mungkin selama ini kita terlalu sering merasa pintar soal kemungkinan.
Padahal rezeki tidak pernah ikut rumus kita.
Kontras yang Sedikit Menyentil
Ada sesuatu yang mengganggu saya setelah mendengar cerita itu.
Bukan karena iri.
Tapi karena kontrasnya terlalu jelas.
Dia berdiri di bawah hujan, berharap ada pembeli.
Saya berbaring di bawah selimut, berharap hujan tidak berhenti.
Dia bertaruh dengan ketidakpastian.
Saya menikmati kenyamanan yang belum mapan.
Dan ironisnya, justru dia yang dapat hasil.
Pelajaran yang Tidak Saya Cari
Saya tidak sedang mencari inspirasi pagi itu.
Saya cuma ingin tidur.
Tapi entah kenapa, cerita ini datang setelah hujan reda seperti tamu yang tidak diundang, lalu duduk lama di kepala.
Mungkin karena ceritanya sederhana.
Mungkin karena tidak menggurui.
Atau mungkin karena… saya tahu, di posisi yang sama, saya belum tentu melakukan hal yang sama.
Sekarang setiap kali hujan turun di pagi hari, saya masih tetap suka tidur.
Saya tidak akan sok berubah drastis lalu tiba-tiba jadi orang produktif.
Hidup ini bukan film motivasi.
Tapi setidaknya, sekarang saya tahu.
di luar sana, saat saya memilih untuk diam, ada orang lain yang tetap bergerak.
Dan kadang, rezeki memang lebih suka menghampiri mereka yang tetap datang ke lapak,
daripada yang memilih tetap di kasur.
meski kasurnya empuk dan hujannya syahdu.
Disclaimer:
Tulisan opini ini merupakan curhatan penulis bisa fiksi ataupun kisah nyata Kirim Tulisan
Punya opini, cerita, atau gagasan menarik yang ingin dibagikan? Kutipan membuka ruang bagi kamu untuk berkarya. Kirimkan tulisan terbaikmu dan jadilah bagian dari suara publik! Hubungi kami melalui WhatsApp di 0811-7776-644 / email: kutipan.co@gmail.com




