
KUTIPAN – Kepala sekolah Play Group Djuwita Batam, Lidia angkat bicara terkait dugaan intimidasi yang dilakukan seorang wali murid terhadap tiga oknum guru.
Dua guru yang dilaporkan mengalami trauma setelah menerima ancaman dari wali murid dalam insiden tersebut.
“Awalnya di hari Selasa sekitar pukul 13.45 Wib seorang wali murid datang ke sekolah bersama sejumlah Orang Tidak Dikenal (OTK) oleh pihak sekolah dan bertepatan dengan jam istirahat. Kedatangannya sebelumnya telah dikonfirmasi melalui telepon sehari sebelumnya,” ujar Lidia, Kamis (30/4/2026).
Menurut Lidia, wali murid tersebut tiba bersama para OTK yang datang sekitar 25 orang dan dinilai mengganggu keamanan dan kenyamanan tenaga pengajar serta anak-anak di sekolah.
“Orang yang tidak kami kenal sebagian di gerbang dan ruang tunggu. Kemudian Wali murid tersebut bersikeras bertemu dengan wali kelas anaknya dan meminta saya untuk turut berada di dalam ruangan,” kata Lidia.
Pihak sekolah awalnya mengira pertemuan itu bertujuan membahas kondisi anak yang tidak mengikuti kegiatan belajar. Namun dalam pertemuan tersebut, wali murid menyampaikan bahwa kedatangannya bukan untuk meminta klarifikasi dan membalas dendam pada guru terkait kondisi yang dialami anaknya.
“Saat guru memberikan penjelasan, wali murid tersebut tidak terima dan selalu memotong pembicaraan. Situasi semakin memanas ketika sejumlah OTK masuk ke ruang kantor dan membawa kamera,” jelas Lidia.
“Wali murid bilang kedatangannya untuk balas dendam dengan guru terkait kondisi anaknya dan juga bukan mendengar klarifikasi guru. Dia melakukan intimidasi verbal terhadap tiga guru dengan nada tinggi dan kata-kata tidak pantas,” sambungnya.
Saat sebagai OTK meninggalkan lokasi, lanjut Lidia, wali murid tersebut sempat menemui mereka. Rekaman CCTV menunjukkan wali murid tersebut memberikan sesuatu pada OTK namun belum diketahui transaksi itu.
Kemudian Wali murid kembali ke ruangan sekolah untuk meminta nomor telepon tiga guru. Setelah itu ada pesan masuk ke telepon para guru terkait data pribadi.
“Wali murid memaksa tiga guru memberikan nomor telepon mereka. Kemudian masuk pesan data pribadi. Salah satu guru juga dipaksa makan nasi Padang dengan dipegang rahang gurunya,” ucap Lidia.
Lidia menambahkan, seorang wali murid lain yang mengetahui kejadian itu turut menghubungi suaminya. Selang berapa lama, suaminya datang untuk memastikan kondisi para guru aman.
Akibat kejadian ini, dua dari tiga guru yang terlibat mengalami trauma dan saat ini belum dapat beraktivitas seperti biasa. Pihak sekolah menyatakan telah membuat laporan resmi kepada kepolisian dan melakukan pemeriksaan internal.
Lidia juga menegaskan, tidak ada tindakan kekerasan yang dilakukan pihak sekolah terhadap anak wali murid tersebut. Ia juga menyebutkan bahwa rekaman CCTV tersedia dan aktif saat kejadian, namun tidak pernah diminta oleh pihak wali murid sebelumnya.
“Wali murid itu sempat berkata, kemana pun kalian pergi akan saya cari kalau kasus ini lanjut ke polsi. Saya tahu alamat tinggal kalian,” pungkas Lidia.
Laporan: Yuyun Editor: Husni




