
KUTIPAN – Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menghadapi tantangan ketenagakerjaan di Indonesia.
Hal itu disampaikan Afriansyah saat menghadiri pelantikan Biru Muda Project bertajuk “UNWRAP: From Potential to Impact Conference 2026” di Jakarta, Sabtu (2/5/2026).
Dalam kesempatan tersebut, ia mengungkapkan bahwa struktur ketenagakerjaan nasional saat ini masih didominasi sektor informal.
Bahkan, lebih dari 155 juta angkatan kerja berada di sektor informal, sementara jutaan lainnya belum terserap di pasar kerja.
“Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari angka statistik, tetapi mampu menunjukkan kemampuan melalui tindakan nyata,” ujar Afriansyah dalam keterangan pers diterima kutipan.co pada Minggu (3/5/2026).
Ia menilai kondisi tersebut menjadi tantangan besar sekaligus peluang bagi generasi muda untuk meningkatkan kualitas dan daya saing diri.
Soroti Kesenjangan Pendidikan dan Industri
Afriansyah juga menyoroti masih adanya kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri yang berdampak pada rendahnya penyerapan tenaga kerja.
Menurutnya, transformasi dalam pembangunan sumber daya manusia menjadi hal yang mendesak agar lebih adaptif terhadap perubahan.
Ia menegaskan bahwa generasi muda tidak cukup hanya berperan sebagai pencari kerja, tetapi harus mampu menciptakan peluang baru.
“Generasi muda memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi melalui penciptaan peluang kerja baru, terutama di era digital,” katanya.
Dorong Wirausaha dan Inovasi Digital
Lebih lanjut, Afriansyah mendorong generasi muda untuk memanfaatkan teknologi sebagai sarana menciptakan inovasi dan peluang usaha.
Menurutnya, langkah ini dapat menjadi solusi dalam mengurangi ketergantungan terhadap sektor formal.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, industri, akademisi, komunitas hingga media, dalam memperkuat ekosistem ketenagakerjaan.
Empat Pilar Strategis Kemenaker 2026
Sebagai langkah konkret, Kementerian Ketenagakerjaan menetapkan empat pilar strategis pada 2026.
Pertama, penguatan pelatihan vokasi melalui program skilling dan reskilling.
Kedua, pengembangan Talent and Innovation Hub (TIH).
Ketiga, perluasan akses pelatihan termasuk bagi penyandang disabilitas.
Keempat, peningkatan produktivitas melalui Labor Productivity Clinics.
Selain itu, pengembangan talenta juga dilakukan melalui pendekatan inkubasi untuk mendorong lahirnya wirausaha digital baru.
Program ini diharapkan mampu menciptakan pelaku ekonomi mandiri yang inovatif, termasuk di sektor ekonomi kreatif dan industri hijau.
“Seluruh program tersebut merupakan bagian dari strategi terintegrasi untuk membangun ekosistem ketenagakerjaan yang adaptif, inklusif, dan berdaya saing global,” ucap Afriansyah.***
Laporan: Rika Editor: Fikri




