
KUTIPAN – Ada orang-orang yang datang ke rumah sakit dengan ambulans, sirene, dan keluarga lengkap di belakangnya. Ada pula yang datang diam-diam, naik kapal, menyeberang laut, dibawa oleh warga yang bahkan bukan keluarganya sendiri. Dia adalah Sugih remaja usai 13 tahun asal Senayang, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.
Remaja 13 tahun asal Pulau Senayang itu tiba di RSUD Dabo Singkep pada Rabu malam, 31 Desember 2025. Saat orang-orang sibuk menghitung mundur tahun baru, Sugih justru dibawa menyeberangi laut dalam kondisi tubuh lemas, kadar hemoglobin rendah, dan nyaris tanpa siapa-siapa.
“Pas malam tahun baru kami bawa ke sini,” kata Iwan, warga Senayang, ketika ditemui di RSUD Dabo Singkep, Selasa (6/1/2026).
Iwan bukan ayahnya. Bukan pamannya. Bukan pula wali resmi. Ia hanya warga yang merasa tak tega membiarkan Sugih terus sakit di pulau. Di rumah sakit, dokter menyatakan Sugih kekurangan Hb dan harus menjalani transfusi darah.
Dua hari terakhir ini, kabarnya mulai membaik. Perlahan. Tidak dramatis. Tidak viral. Tapi cukup untuk membuat orang-orang di sekitarnya mengucap syukur.
“Alhamdulillah, sekarang sudah bisa jalan. Sudah bisa turun dari tempat tidur, keluar duduk,” ujar Iwan.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tapi bagi Sugih, bisa turun dari ranjang bukan perkara sepele. Itu tanda tubuhnya masih mau bertahan.
Sugih adalah remaja asli Senayang. Ibunya sudah meninggal dunia. Ayahnya entah di mana, pernah ada, lalu pergi, dan tak pernah benar-benar kembali. Sugih putus sekolah sejak lulus SD. Tidak ada orang tua. Tidak ada pengasuh tetap. Tidak ada alamat pulang yang jelas.
Evakuasi Sugih ke rumah sakit dilakukan dengan pendampingan pihak Kelurahan Senayang dan warga. Bukan program besar. Bukan agenda resmi. Hanya keputusan kolektif, anak ini harus dibawa untuk diberikan perawatan intensif oleh tenaga kesehatan.
“Kondisinya jauh lebih baik dibandingkan waktu pertama kali dibawa,” kata Iwan lagi, singkat, tapi tegas.
Di ruang rawat inap, tampak Sugih kini sudah bisa duduk dan berjalan pelan. Masih diawasi. Masih dirawat. Tubuhnya mungkin mulai pulih, tapi hidupnya masih panjang dan rapuh.
Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Lingga, Siti Noraziah, mengatakan pihaknya ikut mendampingi Sugih selama masa perawatan.
“Saat ini kami dari PPA masih melakukan pendampingan terhadap Sugih dalam proses pemulihannya. Fokus kami saat ini adalah kesehatannya,” ujarnya.





