
KUTIPAN – Kalau kecelakaan lalu lintas cuma soal ngebut dan ugal-ugalan, mungkin ceritanya akan jauh lebih sederhana. Tapi di Lingga, tahun 2025 menunjukkan hal yang sedikit lebih rumit dan licin. Bukan cuma karena hujan, tapi juga karena tumpahan bahan bakar minyak (BBM) yang kerap bikin jalan berubah jadi arena seluncur dadakan.
Data kepolisian mencatat, sepanjang 2025 terjadi 25 kasus kecelakaan lalu lintas di Kabupaten Lingga. Angka ini naik dua kasus dibandingkan tahun 2024 yang mencatat 23 kasus. Kenaikannya memang tak dramatis, tapi cukup untuk jadi bahan renungan bersama.
Hal itu disampaikan langsung oleh Kapolres Lingga, AKBP Dr. Pahala Martua Nababan, saat konferensi pers rilis akhir tahun di Polres Lingga, Selasa (30/12/2025).
Menariknya, di tengah angka kecelakaan yang meningkat, korban meninggal dunia justru nihil. Namun, cerita berbeda datang dari jumlah korban luka.
“Untuk korban meninggal dunia di tahun 2025 nihil. Tapi korban luka berat mengalami peningkatan menjadi 27 orang, sementara luka ringan ada enam,” ujar Pahala.
Kalau ditarik benang merahnya, kecelakaan di Lingga tahun ini bukan cuma soal siapa yang salah di balik setang. Ada faktor-faktor lain yang pelan-pelan tapi konsisten bikin jalanan jadi tak ramah.
Salah satu yang paling disorot adalah tumpahan BBM di jalan raya. Dalam beberapa bulan terakhir, kasus kecelakaan diketahui dipicu oleh BBM yang tercecer dari jerigen atau wadah angkut yang tak memenuhi standar keamanan.

“Tren Kamseltibcarlantas saat ini adalah bagaimana kami mengimbau penjual BBM, termasuk SPBU, agar faktor keamanan jeriken dan alat angkut BBM lebih terjamin,” kata Kapolres.
BBM yang tumpah, kata Pahala, bukan sekadar soal bau menyengat. Di atas aspal, cairan ini bisa jadi jebakan berbahaya, terutama bagi pengendara roda dua yang tak sempat mengantisipasi jalan licin.
Karena itu, kepolisian kini mencoba pendekatan yang lebih komunikatif. Tak hanya mengingatkan penjual BBM, tapi juga mulai memperhatikan siapa saja pembeli yang kerap lalai saat mengangkut bahan bakar.
“Kami sedang berusaha membangun komunikasi yang lebih intens dengan penjual BBM, sekaligus mengidentifikasi pembeli-pembeli yang sering lalai dalam mengangkut BBM sehingga tumpah di jalan,” tegasnya.
Namun BBM bukan satu-satunya biang kerok. Cuaca ekstrem ikut menyumbang cerita. Hujan deras dan angin kencang beberapa kali menyebabkan pohon tumbang ke badan jalan dan tak sedikit pengendara yang tak sempat menghindar.
“Faktor cuaca juga berpengaruh. Pohon tumbang ini sering menyebabkan masyarakat menabrak pohon tersebut,” ungkap Pahala.
Ditambah lagi, kondisi infrastruktur jalan yang berlubang, yang dalam situasi tertentu bisa berubah jadi perangkap tak terlihat, terutama saat malam atau hujan turun.





