
KUTIPAN – Biasanya kalau dengar polisi bongkar makam, pikiran langsung melayang ke kasus kriminal manusia. Tapi kali ini beda. Di Sentul, Bogor, yang digali adalah makam anjing. Bukan anjing biasa, tapi penghuni shelter yang mati mendadak dan diduga diracun. Kasus ini jadi ramai setelah diunggah oleh artis Shahnaz Haque. Tak lama, polisi satwa langsung turun lapangan, membawa tim dokter hewan dan satu misi penting: mencari keadilan bagi yang tak bisa bersuara.
Apa yang Terjadi dengan Dua Anjing Shelter Ini?
Sebuah shelter anjing terlantar di kawasan Sentul mendadak ramai diperbincangkan. Dua ekor anjing milik shelter tersebut mati mendadak. Yang bikin geger, kematiannya diduga karena diracun.
Kabar ini pertama kali mencuat bukan dari media, tapi dari unggahan Instagram milik artis Shahnaz Haque. Unggahan ini langsung memantik reaksi dari berbagai pihak, termasuk akun-akun resmi milik Polri seperti Itwasum Polri dan @k9sar_polripresisi.
Respon cepat datang dari Direktorat Polisi Satwa Korsabhara Baharkam Polri. Lima personel Subdit Harvet (yang khusus menangani pemeliharaan veteriner) langsung diterjunkan ke lokasi.
“Lima personel Subdit Harvet melakukan sambang ke Shelter Tanpa Nama di Sentul, Bogor,” jelas Irjen Pol Mulia Hasudungan Ritonga dalam keterangan tertulis (21/5/2025).
Siapa Saja yang Turun Tangan?
Tim yang turun ke lapangan bukan sembarang personel. Ada Iptu drh Eniza Rukisti, Penata Muda Tingkat I drh Grace Tabitha Tenggi, Ipda drh Linda, Bripka Andris, dan Bripda Syahrol. Mereka menghabiskan sekitar 3 jam berkoordinasi dengan pihak shelter—yang berjumlah sekitar enam orang—untuk mengumpulkan informasi kronologis.
Anjing yang mati ini sebenarnya sudah dikubur sejak pagi hari sebelumnya (20/5). Namun, demi penyelidikan, tim meminta izin untuk membongkar salah satu makam dan melakukan otopsi.
“Di shelter, tim berkoordinasi dengan pihak shelter untuk mengetahui kronologi kejadian. Anjing tersebut sudah dikuburkan kemarin (20/5) pagi, jadi tim Ditpolsatwa meminta izin untuk mengotopsi kadaver salah satu anjing untuk membantu memastikan penyebab kematian. Semisal diracun, jenis racun apa,” terang Irjen Ritonga.
Mau Dibawa ke Mana Mayat Anjing Itu?
Bukan cuma dibongkar, kadaver salah satu anjing langsung dibawa ke tempat yang tepat: Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB), tepatnya ke bagian Patologi.
“Kadaver dibawa ke bagian Patologi Sekolah Kedokteran Hewan IPB,” tambah Ritonga.
Langkah ini penting, karena lewat otopsi, bisa diketahui secara ilmiah apakah benar anjing tersebut mati karena racun, dan kalau iya, jenis racun apa yang digunakan. Ini bukan sekadar demi proses hukum, tapi juga demi mencegah kasus serupa terjadi lagi.
Anjing memang tak bisa bicara, tapi bukan berarti suaranya tak bisa didengar. Ketika dua nyawa mati sia-sia, dan banyak yang hanya bisa berspekulasi, tugas manusia—terutama yang punya kuasa—adalah membela mereka. Polisi satwa bukan cuma jaga hewan dalam aksi, tapi juga jaga keadilan buat makhluk yang tak bisa mengadukan nasibnya sendiri. Semoga dari kasus ini, rasa empati bisa bangkit, tak hanya untuk anjing, tapi untuk semua makhluk hidup yang tak bisa bilang “tolong”.
Untuk informasi beragam lainnya ikuti kami di medsos:
https://www.facebook.com/linggapikiranrakyat/
https://www.facebook.com/kutipan.dotco/
Editor: Fikri Artikel ini merupakan rilis/laporan wartawan yang telah dikemas ulang dengan gaya penulisan Kutipan, tanpa mengurangi substansi informasi.